Apel merah membawa hujan darah
Berlari kecil membakar sejarah
Tawa berubah menjadi amarah
Serta hentak kaki bersulap ke beda arah
Kita terduduk dan terdiam
Senyuman seakan padam
Hingga hunjan pun ikut muram
Satu dan dua
Kita memang tak sama
Dua dan tiga
Sekalipun sama tapi berbeda
Tiga dan seterusnya
Perbedaan itu tetaplah berbeda
Hujan membawa angin bertiup debu
Ombak laut bernyanyi menderu
Cinta kita seakan beradu
Diantara bayangan semu
Duduk Hitam di bawah Hujan
Semilir sejuk mendengar nyanyian
Hingga dingin tak tergantikan
Namun hati tetap hanya duduk diam menunggu kepastian
Duduk Hitam di bawah Hujan, by: @NSSnid
Malang, 28 April 2012
No comments:
Post a Comment