Mencium bau hujan serasa
mencium masa kecil saya yang sudah
terpaut hampir lima belas tahun lamanya. Yang saya ingat dari semua hal
menyenangkan itu adalah mengenai kenangan bermain dengan hujan.
Kala itu langit sudah
mendung dan seakan air hujan akan tumpah dalam waktu singkat. Tiba-tiba rasa
ingin untuk bermain di luar timbul dalam diri saya. Saya bertanya pada mama dan
mama mengijinkan saya karena untungnya juga besok adalah hari libur. Setelah mama
memberikan ijin ada satu yang saya minta darinya yaitu saya ingin ia memberikan
jas hujan yang biasa saya kenakan pergi ke sekolah. Dalam hatinya mungkin
terkekeh karena saya ingin pergi bermain dengan hujan namun secara bersamaan
pula saya tidak ingin basah. Akhirnya mama memberikan apa yang saya minta, dan
saya ingat warna jas hujan saya waktu itu adalah hijau muda dengan model
kelelawar yang lucu. Tak lama hujan turun dengan lebat, saya membuka pintu
rumah dan perlahan berlari menuju teras dan membuka pagar rumah. Di detik
berikutnya saya bermain dengan riang. Setidaknya waktu itu saya tidak pernah
memikirkan untuk terkena flu atau jatuh sakit bahkan saya tidak memikirkan apa
yang akan terjadi kalau saya pergi bermain dengan hujan. Lelah bermain dengan
hujan saya pergi untuk istirahat di teras rumah. Saya lepas jas hujan yang saya
kenakan dan duduk di pojokan sambil memandang langit yang tak henti-hentinya
menjatuhkan bulir airnya. Lama saya terduduk hingga akhirnya hujan berhenti
walaupun terlihat sedikit air hujan yang turun. Namun dengan cantiknya secercah
sinar berwarna-warni timbul di ujung langit yang saya lihat. Itu pelangi dan
saya menunjuknya dengan gembira. Lelah saya bermain dengan hujan dan mama
memanggil saya untuk masuk ke dalam rumah untuk segera mengganti pakaian agar
tak masuk angin bahkan jatuh sakit.
Cerita ini kembali saya
ingat ketika di rumah saya sedang mengalami mendung yang ternyata tidak jadi
turun hujan. Berkali-kali sampai sekarang keinginan saya untuk pergi bermain
dengan hujan masih ada tapi setelah saya pikir saat saya bertanya pada mama
saya lagi akankah ia mengijinkan saya bermian? Atau bukan masalah ijin, tapi
apakah ia tidak akan tertawa mendengar permintaan saya yang begitu
kekanak-kanakkan?
No comments:
Post a Comment