Sunday, March 31, 2013

Cerita Hujan Saya ketika Kecil


Mencium bau hujan serasa mencium masa kecil  saya yang sudah terpaut hampir lima belas tahun lamanya. Yang saya ingat dari semua hal menyenangkan itu adalah mengenai kenangan bermain dengan hujan.

Kala itu langit sudah mendung dan seakan air hujan akan tumpah dalam waktu singkat. Tiba-tiba rasa ingin untuk bermain di luar timbul dalam diri saya. Saya bertanya pada mama dan mama mengijinkan saya karena untungnya juga besok adalah hari libur. Setelah mama memberikan ijin ada satu yang saya minta darinya yaitu saya ingin ia memberikan jas hujan yang biasa saya kenakan pergi ke sekolah. Dalam hatinya mungkin terkekeh karena saya ingin pergi bermain dengan hujan namun secara bersamaan pula saya tidak ingin basah. Akhirnya mama memberikan apa yang saya minta, dan saya ingat warna jas hujan saya waktu itu adalah hijau muda dengan model kelelawar yang lucu. Tak lama hujan turun dengan lebat, saya membuka pintu rumah dan perlahan berlari menuju teras dan membuka pagar rumah. Di detik berikutnya saya bermain dengan riang. Setidaknya waktu itu saya tidak pernah memikirkan untuk terkena flu atau jatuh sakit bahkan saya tidak memikirkan apa yang akan terjadi kalau saya pergi bermain dengan hujan. Lelah bermain dengan hujan saya pergi untuk istirahat di teras rumah. Saya lepas jas hujan yang saya kenakan dan duduk di pojokan sambil memandang langit yang tak henti-hentinya menjatuhkan bulir airnya. Lama saya terduduk hingga akhirnya hujan berhenti walaupun terlihat sedikit air hujan yang turun. Namun dengan cantiknya secercah sinar berwarna-warni timbul di ujung langit yang saya lihat. Itu pelangi dan saya menunjuknya dengan gembira. Lelah saya bermain dengan hujan dan mama memanggil saya untuk masuk ke dalam rumah untuk segera mengganti pakaian agar tak masuk angin bahkan jatuh sakit.

Cerita ini kembali saya ingat ketika di rumah saya sedang mengalami mendung yang ternyata tidak jadi turun hujan. Berkali-kali sampai sekarang keinginan saya untuk pergi bermain dengan hujan masih ada tapi setelah saya pikir saat saya bertanya pada mama saya lagi akankah ia mengijinkan saya bermian? Atau bukan masalah ijin, tapi apakah ia tidak akan tertawa mendengar permintaan saya yang begitu kekanak-kanakkan?

No comments:

Post a Comment