Saturday, March 30, 2013

Kepada mereka yang selalu membuang muka...


Saya selalu berpikir untuk duduk di sebuah bar dengan menggenggam segelas red wine dengan backsound music adalah music jazz. Di sana saya akan mulai memikirkan betapa indahnya jika saya juga berjalan layaknya mereka yang selalu membuang muka. Tapi saya tak bisa. Saya selalu berusaha untuk tidak mendongak tapi selalu tertunduk. Mengapa mereka dengan mudanya mengatakan ‘aku tak mengenalnya’? mungkin mereka tak suka jika orang yang mereka kenal akan menyapanya baik secara langsung atau tidak. Seakan mereka membuang para kaum yang tak ingin mereka kenal. Kaum yang seakan-akan tidak pantas di mata mereka. Mungkin kelompok ini terlalu jijik untuk bisa dikenal secara pribadi oleh mereka. Ya, mereka saja yang terlalu sombong untuk menundukkan kepala. Mereka terlalu munafik untuk mengenal kelompok kecil yang terlupakan. Mereka akan berpikir ‘rugi’ jika sampai mengenal kelompok itu. Intinya mereka tak ingin hidupnya tercemar akan orang-orang yang tidak penting. Tapi, tahukan kamu jika kelompok ini yang nantinya langsung atau tidak akan menolongmu. Entah kapan. Mereka tidak akan memandang sebelah mata untuk siapa pertolongan itu akan diberikan karena dengan cara itulah mereka dapat diterima. Namun lagi-lagi timbale balik yang mereka dapat adalah ‘NOL’.
Sedikit demi sedikit gelas berisi red wine saya telah habis, waktunya untuk mengisi kembali. Sekarang? Apa yang akan coba saya pikirkan? Saya ingin menghujat? Tidak, saya hanya berusaha berpikir rasional. Terimalah kelompok kecil ini, jangan munafik. Toh tidak rugi juga menerima mereka sebagai bagian dari hidup kita.
Botol red wine saya ternyata sudah habis. Waktunya pulang.
Selamat malam.

No comments:

Post a Comment