Saya selalu berpikir
untuk duduk di sebuah bar dengan menggenggam segelas red wine dengan backsound music
adalah music jazz. Di sana saya akan mulai memikirkan betapa indahnya jika saya
juga berjalan layaknya mereka yang selalu membuang muka. Tapi saya tak bisa. Saya
selalu berusaha untuk tidak mendongak tapi selalu tertunduk. Mengapa mereka
dengan mudanya mengatakan ‘aku tak mengenalnya’? mungkin mereka tak suka jika
orang yang mereka kenal akan menyapanya baik secara langsung atau tidak. Seakan
mereka membuang para kaum yang tak ingin mereka kenal. Kaum yang seakan-akan
tidak pantas di mata mereka. Mungkin kelompok ini terlalu jijik untuk bisa
dikenal secara pribadi oleh mereka. Ya, mereka saja yang terlalu sombong untuk
menundukkan kepala. Mereka terlalu munafik untuk mengenal kelompok kecil yang
terlupakan. Mereka akan berpikir ‘rugi’ jika sampai mengenal kelompok itu. Intinya
mereka tak ingin hidupnya tercemar akan orang-orang yang tidak penting. Tapi,
tahukan kamu jika kelompok ini yang nantinya langsung atau tidak akan
menolongmu. Entah kapan. Mereka tidak akan memandang sebelah mata untuk siapa
pertolongan itu akan diberikan karena dengan cara itulah mereka dapat diterima.
Namun lagi-lagi timbale balik yang mereka dapat adalah ‘NOL’.
Sedikit demi sedikit
gelas berisi red wine saya telah habis, waktunya untuk mengisi kembali. Sekarang?
Apa yang akan coba saya pikirkan? Saya ingin menghujat? Tidak, saya hanya
berusaha berpikir rasional. Terimalah kelompok kecil ini, jangan munafik. Toh tidak
rugi juga menerima mereka sebagai bagian dari hidup kita.
Botol red wine saya
ternyata sudah habis. Waktunya pulang.
Selamat malam.
No comments:
Post a Comment